aku sudah menceritakannya pada mu, ingat kah?
mungkin tidak. itu pun tidak apa-apa.
aku bisa kok menceritakannya lagi pada mu.
dengan setiap detil yang kurasakan, yang mungkin tak akan kamu ingat untuk satu minggu ke depan.
aku, ingin pulang.
pulang.
merasakan keberadaanku di tempat yang pas.
dengan orang-orang yang pas.
yang merefleksi sesuai dengan apa yang aku harapkan, yang tidak membuatku mengernyitkan dahi saat melihat tindakan mereka.
mungkin aku belum terbiasa, mungkin aku pun belum bisa membuka diri. aku menyadari akan hal itu.
tapi sungguh. aku ingin pulang.
letih.
untuk berjuang sendirian.
aku tahu, ini jalan yang aku pilih, sudah konsekuensiku untuk menjalaninya.
berjalan sendirian, itu yang kini ku rasakan.
tak biasa.
aku tak seperti ini, aku tahu.
aku yang dulu berslogan "yeah! i'm single fighter!", sekarang, aku takut dengan kesendirian.
aku benci dengan kesendirian.
aku mulai tidak menikmati kesendirian ini.
aku benci sepi.
aku tidak lagi tersenyum saat melihat langit malam.
tidak lagi menyapa pada mentari pagi.
aku merindukan tangan-tangan yang menjagaku, yang selalu aku syukuri atas sentuhan hangatnya, tangan-tangan yang menahanku untuk berbuat nekat, tangan-tangan yang selalu membelaiku saat aku terusik.
aku rindu bibir itu, yang mengucapkan selamat pagi, yang tertawa lepas, yang tak henti mengucap doa untukku, yang menjawab pertanyaanku, baik yang terucap, atau tak sempat terucap.
hei!
aku rindu keramaian!
aku benci sendirian, menjalani hari sendirian, melakukan semuanya sendirian!
aku ingin pulang.
rumahku. tempatku.
keramaian.
teman.